Minggu, 26 Oktober 2008

JAJANAN KHAS SRAGEN, MBAH RAJAK, RASANYA ENAK DAN KHAS DILIDAH

SRAGEN - Sragen, selain kaya akan prestasi ternyata juga kaya akan makanan tradisional. Salah satunya adalah makanan khas yang diproduksi oleh Mbah Sumo Diharjo yang lebih akrab dipanggil Mbah Rajak. Sudah 40 tahun mbah Rajak berjualan aneka macam makanan tradisional, antara lain: Jenang, trasikan, wajik, jadah, dan aneka lauk pauk.

Karena banyaknya pembeli, selain berjualan di pasar Bunder, mbah Rajak juga melayani pembeli yang langsung datang dirumah. Banyak sekali pembeli yang sudah menjadi langganannya karena itu setiap hari warung mbah Rajak di pasar tidak pernah sepi oleh pembeli. Mulai pagi sampai sore makanannya selalu diserbu pembeli dan jarang sekali makanan tersebut sampai sisa. Bahkan tidak jarang pembeli yang datang berasal dari luar daerah dan menjadikan makanan khas Sragen buatan mbah Rajak ini sebagai oleh-oleh.

Dari hasil penjualan dagangannya setiap harinya mbah Rajak mendapat penghasilan sekitar Rp. 4 juta. Jenang buatannya dijual Rp 20.000 per kilo, sedangkan trasikan dan wajik dijualnya Rp 25.000 per kotaknya. Selain di jual kiloan, racikan makanan tersebut juga dapat dibeli sesuai dengan harga yang diinginkan.

Mbah Rajak mengawali usahanya sebagai pedagang jenang sekitar tahun 1968. “ Dahulu saya hanya seorang pedagang jenang keliling di daerah Sragen, karena belum memiliki tempat tinggal menetap.” Ceritanya. “ Saya sempat dua kali menyewa sebuah rumah tinggal untuk mengembangkan usaha, “ tambahnya. Karena usahanya makin berkembang akhirnya mbah Rajak mampu memiliki rumah sendiri di Jl. Kampar No. 7 Cantel Wetan, Kelurahan Sragen Tengah. Tidak hanya itu saja, sekarang mbah Rajak sudah memiliki tiga rumah yang tinggali ketiga anaknya.

Ditambahkan sejak suaminya meninggal, mbah Rajak menjadi tulang punggung keluarga, dan dengan kerja keras serta pantang menyerah akhirnya ia mampu menyekolahkan anaknya sampai kejenjang perguruan tinggi bahkan sekarang anaknya sudah lulus menjadi sarjana hukum.

Tentunya dari semuanya itu diperlukan suatu usaha yang gigih, dan keuletan dalam mengembangkan usahanya. Berawal dari usaha yang dikelolanya sendiri, sekarang mbah Rajak sudah memiliki 10 orang pekerja. Setiap hari usaha pembuatan jajanan mbah Rajak mampu menghabiskan bahan baku berupa beras ketan sebanyak 40 kg.

Sekalipun mbah Rajak sudah memiliki tujuh cucu dan tujuh buyut, ini tidak menyurutkan semangatnya dalam bekerja. Dan sekarang makanan yang diproduksi mbah Rajak sudah menjadi makanan khas Sragen yang banyak diminati semua kalangan masyarakat karena selain rasanya enak dan lezat , juga khas dilidah, harganya juga terjangkau.

Nah, bagi anda yang tertarik dengan jajanan mbah rajak, silahkan datang kerumahnya di Jl. Kampar No. 7, RT 03 RW XI Cantel Wetan, Sragen Tengah, atau di pasar Bunder pintu sebelah utara.

Kamis, 23 Oktober 2008

Kuliner Khas SRAGEN


Soto ini memang lain dari yang lain, seolah memiliki aura magic soto ini mampu menghipnotis setiap pelangganya dengan kuah segar beraroma khas kuali dan perapian arang kayu. Soto ini telah puluhan tahun silam didirikan dan diwariskan secara turun temurun pada anak cucunya, bagi masyarakat kota Sragen pasti sudah tidak asing lagi dengan soto ini tak terkecuali saya yang telah 5 tahun ini merantau di Balikpapan. Akan terjadi lonjakan pengunjung yang sangat dahsyat pada saat musim lebaran tiba, telah menjadi tradisi setiap selesai melakukan sholat ied keluarga saya dan juga keluarga2 lain untuk menyerbu warung soto ini.

Yap soto ini menggunakan brand “Soto Girin” yang telah dirintis oleh Pendirinya bapak Girin di sebuah sudut kota Sragen puluhan tahun silam dan kini telah diteruskan oleh anak cucunya, dilingkungan keluarga kami Soto Girin sangat populer hingga selalu menjadi alasan kekangenan kami pulang ke kampung halaman Sragen.

Rahasia kehebatan soto ini adalah terletak pada cara memasaknya yang tidak pernah di rubah dari sejak didirikan oleh Bapak Girin, soto ini dimasak didalam kuali yang terbuat dari tanah liat dan menggunakan kayu bakar sebagai perapianya dan tentunya menggunakan bumbu2 rahasia yang tidak akan pernah saya ketahui rahasianya, konon sekitar tahun 1980an pernah seorang pengusaha sukses dari ibu kota menawarkan ratusan juta untuk membeli bumbu soto ini tapi ditolak dengan sopan oleh Bapak Girin dengan alasan bahwa sebenarnya tidak ada rahasia bumbu pada soto ini hanya saja sesepuhnya (maksudnya tetua Bapak Girin) mengatakan kalau soto ini akan berubah rasa apabila di buka di lain tempat.

Percaya tidak percaya tetapi saya pribadi pernah mencoba cabang soto ini di kota Solo tetapi memang rasanya sangat lain dari tempat asalnya Sragen, saya juga mendengar kalau soto ini juga tidak terlalu sukses di kota Karanganyar. Jadi jika anda penasaran jangan sampai kelewatan untuk mencicipi soto ini ketika anda berkunjung di kota Sragen.

KELEZATAN YANG LAHIR DARI PERUT BUMI SUKOWATI

SRAGEN - Selama bulan Ramadhan ini, masyarakat Sragen dan sekitarnya dapat menikmati berbagai jajanan sehat dengan harga terjangkau. Di sepanjang jalan dipayungi rindangnya pepohonan, berdiri 25 kios yang menyajikan aneka kuliner khas Sragen.

Nuansa tradisional tampak dari bangunan kios berukuran 3 x 3 meter, yang berdiri sederhana dengan rangka bambu beratapkan rapak ( atap yang terbuat dari daun tebu). Terletak di sebelah timur Kantor Sekretariat Daerah Sragen, gelaran wisata kuliner bertajuk Pusat Jajan Rakyat Sukowati (PJRS) ini menempati lokasi yang sangat strategis. Tempatnya mudah diakses. Hanya tinggal menyeberang jalan ke utara, dari pusat rekreasi keluarga Alun-alun Sasana Langen Putra. Rimbunnya pohon angsana di sepanjang lokasi, menambah suasana tenang, di tengah semaraknya kegiatan warga Sragen di sore hari.

Senin kemarin, (1/9) PJRS ini diresmikan oleh Bupati Sragen H Untung Wiyono. Rencananya, lokasi wisata kuliner baru ini akan buka mulai pukul 16.00 sore hingga selesai. Di tempat itu, tersedia berbagai jajanan murah dan sehat, seperti Kolak Lidah Buaya, Sari Kedelai aneka rasa, Es Buah, serta berbagai kudapan yang menyegarkan untuk berbuka puasa. Selain itu juga ada kios-kios yang menyajikan makanan sehat, dan makanan khas Sragen lainnya.

Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UKM Ir Djoko Purwanto, MM yang ditemui di lokasi mengatakan, kekayaan kuliner khas Sragen seolah tak ada habisnya. Kreatifitas masyarakat menciptakan aneka hidangan yang menggugah selera itu kini diwadahi dalam satu lokasi pusat jajan, yang terjangkau oleh berbagai lapisan masyarakat. Tak hanya murah dan sehat, Djoko mengatakan berbagai hidangan di sini bebas dari bahan pengawet, pewarna, dan penyedap rasa.

Kelezatan berbagai hidangan ini berasal dari kejelian para pedangang mengolah berbagai produk lokal yang lahir dari perut Bumi Sukowati. Untuk awalnya, PJRS akan buka selama bulan ramadhan, guna melayani masyarakat yang akan berbuka puasa. Namun tidak tertutup kemungkinan, kata Djoko, jika animo masyarakat bagus, pusat jajan ini akan buka seterusnya. Seiring dengan hal itu, berbagai perbaikan akan dilaksanakan. Djoko menambahkan, penerangan jalan dan sistem drainase, menjadi catatan tersendiri yang harus segera ditangani. Apalagi, wisata kuliner ini akan buka di malam hari. Penerangan jalan menjadi syarat mutlak demi mendukung kenyamanan masyarakat yang datang ke tempat itu. Ia berharap, keberadaan PJRS menciptakan harmoni yang selaras antara pemenuhan kebutuhan kuliner masyarakat dan kesejahteraan pedagang kecil yang tergabung di dalamnya.